Kamis, 18 November 2010

Psikologi Komunikasi


Charactersitics of Relationships


1. There is strong mutual concern (caring) for the other’s personal growth.

            Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri disebut sebagai nu-buat yang dipenuhi sendiri. Bila anda berfikir Andi orang bodoh, anda akan benar-benar menjadi orang bodoh. Biula anda merasa memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan, maka persoalan apa pun yang Anda hadapai pada akhrinya dapat Anda atasi. ANda berusaha hidup sesuai dengan label yang anda letakan pada diri anda. Hubungan konsep diri dengan perilaku, mungkin dapat disimpulkan dengan ucapan para penganjur berfikir positif : You don’t think what you are, you are what you think.


2. There is Consistent agreement on intellectual matters.

Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Menurut teori Cognitive Consistency dari Fritz Heider, manusia selalau berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya. Kita cenderung menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita, dan jika kiat menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita. Kita ingin memiliki sikap yang sama dengan orang yang kita sukai, supaya seluruh unsure kognitif kita konsisten.

3. There is strong mutual commitment to the potential of the relationship.

Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memlihara dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahan memerlukan tindakan-tindakantertentu untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium). Ada empat factor yang amat penting dalam memlihara keseimbangan ini : keakraban, control, respons yang tepat, dan nada emosional yang tepat.

Kekaraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih saying Hubungan Interpersonal akanterpelihara apabiula kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan. Faktor yang kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa. Faktor yang ketiga, adalah ketepatan respons ; artinya, rspon A haruis di ikuti Respon B yang sesuai.

Konfirmasi

1)      Pengakuan LAngsung
2)      Perasaan Positif
3)      Responss Meminta Keterangan
4)      Respons Setuju
5)      Respons Suportif

Diskonfirmasi

1)      Respons Sekilas (Tangenial Response)
2)      Response Impersonal (Impersonal Response)
3)      Response Kosong (Impervious Response)
4)      Response yang tidak relevan (Irrelevant Response)
5)      Respon Interupsi (Interrupting Response)
6)      Response Rancu (Incorect Response)
7)      Response Kontradiktif (Incongruous Response)


4. They have a reciprocal feeling for each other
           
1)      Karakteristik dan maksud orang lain. Orang akan menaruh kepercayaan kepada seorang yang dianggap memiliki kemamampuan, ketremapilan, atau pengalaman dalam bidang tertentu. Contoh : Kita percaya kepada Dokter.
2)      Hubungan Kekuasaan. Percaya  tumbuh apabila orang-orang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain. Bila saya tahu bahwa Anda akan patuh dan tunduk kepada saya, saya akan mempercayai anda.
3)      Sifatnya dan Kualitas Komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan tujuan sudah jelas, bila ekspektasi sudah dinyatakan, maka akan tumbuh sikap percaya.


5. They can spend a majority of their time together.           

Dalam komunikasi interpersonal, kita bias berlama-lama bertukar pengelaman salaing mengenal karena kita menruh keprcayaan yang tinggi pada lawan bicara kita. Hubungan semakin akrab terjalin karena saling memiliki keprcayaan dan keretbukaan dalam berkomunikasi.

6. There is a mutual depth of sharing of their experiences
Ada kedalaman saling berbagi pengalaman mereka

Sikap percaya berkembang apabila setiap komunikan menganggap komunikan lainnya berslaku jujur. Tentu sikap ini dibentuk berdasarkan pengalaman kita dengan komunikan. Karena itu sikap percaya berubah-ubah tergantung kepada komunikan yang dihadapi.  Selain pengalaman, ada tiga factor utama yang dapat menumbukan  sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya : menerima, empati dan kejujuran.

7. They consider each other as significan others
                                                                                                  
Pembukaan diri atau Self-Disclousure adalah mengungkapkan rekasi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau berguna untuk memhami tanggapan kita di masa kini tersebut. (Johnson, 1982), dalam Komunikasi Interpersonal Karya Dr. A. Supratiknya.

Sikap Terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatisme, sehingga untuk memhami sikap terbuka, kita harus mengidentifikasikan lebih dahulu karakteristik orang dogmatis.


                                     
8. There is openness and honesty in all their communication.
Ada keterbukaan dan kejujuran dalam semua komunikasi mereka

Kejujuran adalah factor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Menerima empati mungkin saja dipersepsi salah oleh orang lain. Sikap menerima kita dapat ditanggapi sebagai sikap tak acuh, dingin dan tidak bersahabat ; empati dapat ditanggapi sebagai pura-pura. Supaya ditanggapi sebenarnya,kita harus jujur mengungkapkan diri kita kepada orang lain. Kita harus banyak menghindari melakukan “penopengan” atau “pemngelolaan kesan” Kita tidak menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang sering menyembunyikan pikiran dan pendapat-pendapatnya. . Kita menaruh kepercayaan kepada orang terbuka, atau tidak mempunyai pretense yang dibuat-buat.

9. They are Willing to bear the other’s burdens in life

Dalam hubungan yang akrab, memunginkan bana hidup di bagi dengan cara mencurahkan isi hati, terlebih curahan isi hati disampaikan kepada orang yang dipercyai. Dalam hubungan antar pribadi sikap saling percaya terjadi dan membagi beban hidup terjadi tanpa paksaan.

10. They Enjoy high, mutual sexual satisfaction


Komunikasi Interpersonal dalam keluarga terdekat seperti hubungan suami iitri dalam berumah tangga dapat menumbuhkan semangat berhubungan seks yang tinggi, dan pada akhirnya mandapatkan kepuasan seksual dalam kehidupan berumah tangga. Komunikasi interpersonal salah satunya menjadi alat untuk mencapai kepuasan tersebut.


Sumber Bacaan :        

Rakhmat Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Rosda, bandung 2009.

Supratiknya, Komunikasi Antarpribadi , Tinjauan Psikologis. Kanisius Yogyakarta, 2007.

Tidak ada komentar: