Charactersitics of Relationships
1. There is strong mutual concern (caring) for the other’s personal
growth.
Kecenderungan untuk bertingkah laku
sesuai dengan konsep diri disebut sebagai nu-buat yang dipenuhi sendiri. Bila
anda berfikir Andi orang bodoh, anda akan benar-benar menjadi orang bodoh.
Biula anda merasa memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan, maka persoalan
apa pun yang Anda hadapai pada akhrinya dapat Anda atasi. ANda berusaha hidup
sesuai dengan label yang anda letakan pada diri anda. Hubungan konsep diri
dengan perilaku, mungkin dapat disimpulkan dengan ucapan para penganjur
berfikir positif : You don’t think what
you are, you are what you think.
2. There is Consistent agreement on
intellectual matters.
Orang-orang
yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat
sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Menurut teori Cognitive Consistency dari Fritz Heider,
manusia selalau berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya. Kita
cenderung menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan
kita, dan jika kiat menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama
dengan kita. Kita ingin memiliki sikap yang sama dengan orang yang kita sukai,
supaya seluruh unsure kognitif kita konsisten.
3. There is strong mutual commitment to the
potential of the relationship.
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi
selalu berubah. Untuk memlihara dan memperteguh hubungan interpersonal,
perubahan memerlukan tindakan-tindakantertentu untuk mengembalikan keseimbangan
(equilibrium). Ada
empat factor yang amat penting dalam memlihara keseimbangan ini : keakraban,
control, respons yang tepat, dan nada emosional yang tepat.
Kekaraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih saying
Hubungan Interpersonal akanterpelihara apabiula kedua belah pihak sepakat
tentang tingkat keakraban yang diperlukan. Faktor yang kedua adalah kesepakatan
tentang siapa yang akan mengontrol siapa. Faktor yang ketiga, adalah ketepatan
respons ; artinya, rspon A haruis di ikuti Respon B yang sesuai.
Konfirmasi
1) Pengakuan
LAngsung
2) Perasaan
Positif
3) Responss
Meminta Keterangan
4) Respons
Setuju
5) Respons
Suportif
Diskonfirmasi
1) Respons
Sekilas (Tangenial Response)
2) Response
Impersonal (Impersonal Response)
3) Response
Kosong (Impervious Response)
4) Response
yang tidak relevan (Irrelevant Response)
5) Respon
Interupsi (Interrupting Response)
6) Response
Rancu (Incorect Response)
7) Response
Kontradiktif (Incongruous Response)
4. They have a
reciprocal feeling for each other
1) Karakteristik
dan maksud orang lain. Orang akan menaruh kepercayaan kepada seorang yang
dianggap memiliki kemamampuan, ketremapilan, atau pengalaman dalam bidang
tertentu. Contoh : Kita percaya kepada Dokter.
2) Hubungan
Kekuasaan. Percaya tumbuh apabila
orang-orang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain. Bila saya tahu bahwa Anda
akan patuh dan tunduk kepada saya, saya akan mempercayai anda.
3) Sifatnya
dan Kualitas Komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan
tujuan sudah jelas, bila ekspektasi sudah dinyatakan, maka akan tumbuh sikap
percaya.
5. They can spend a majority of their time together.
Dalam
komunikasi interpersonal, kita bias berlama-lama bertukar pengelaman salaing
mengenal karena kita menruh keprcayaan yang tinggi pada lawan bicara kita.
Hubungan semakin akrab terjalin karena saling memiliki keprcayaan dan
keretbukaan dalam berkomunikasi.
6. There is a mutual depth of sharing of their experiences
Ada kedalaman saling berbagi pengalaman mereka
Sikap
percaya berkembang apabila setiap komunikan menganggap komunikan lainnya
berslaku jujur. Tentu sikap ini dibentuk berdasarkan pengalaman kita dengan
komunikan. Karena itu sikap percaya berubah-ubah tergantung kepada komunikan
yang dihadapi. Selain pengalaman, ada
tiga factor utama yang dapat menumbukan
sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap
saling percaya : menerima, empati dan kejujuran.
7. They consider each other as significan
others
Pembukaan
diri atau Self-Disclousure adalah
mengungkapkan rekasi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita
hadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau berguna
untuk memhami tanggapan kita di masa kini tersebut. (Johnson, 1982), dalam Komunikasi Interpersonal Karya Dr.
A. Supratiknya.
Sikap
Terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi
interpersonal yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatisme,
sehingga untuk memhami sikap terbuka, kita harus mengidentifikasikan lebih
dahulu karakteristik orang dogmatis.
8. There is openness and honesty in all
their communication.
Ada keterbukaan dan kejujuran dalam semua komunikasi mereka
Kejujuran
adalah factor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Menerima empati mungkin
saja dipersepsi salah oleh orang lain. Sikap menerima kita dapat ditanggapi
sebagai sikap tak acuh, dingin dan tidak bersahabat ; empati dapat ditanggapi
sebagai pura-pura. Supaya ditanggapi sebenarnya,kita harus jujur mengungkapkan
diri kita kepada orang lain. Kita harus banyak menghindari melakukan
“penopengan” atau “pemngelolaan kesan” Kita tidak menaruh kepercayaan kepada
orang-orang yang sering menyembunyikan pikiran dan pendapat-pendapatnya. . Kita
menaruh kepercayaan kepada orang terbuka, atau tidak mempunyai pretense yang dibuat-buat.
9. They are Willing to bear the other’s
burdens in life
Dalam
hubungan yang akrab, memunginkan bana hidup di bagi dengan cara mencurahkan isi
hati, terlebih curahan isi hati disampaikan kepada orang yang dipercyai. Dalam
hubungan antar pribadi sikap saling percaya terjadi dan membagi beban hidup
terjadi tanpa paksaan.
10. They Enjoy high, mutual sexual
satisfaction
Komunikasi Interpersonal dalam
keluarga terdekat seperti hubungan suami iitri dalam berumah tangga dapat
menumbuhkan semangat berhubungan seks yang tinggi, dan pada akhirnya
mandapatkan kepuasan seksual dalam kehidupan berumah tangga. Komunikasi
interpersonal salah satunya menjadi alat untuk mencapai kepuasan tersebut.
Sumber Bacaan :
Rakhmat Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Rosda, bandung 2009.
Supratiknya, Komunikasi Antarpribadi , Tinjauan Psikologis. Kanisius
Yogyakarta, 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar