Selasa, 13 April 2010
FILSAFAT SATU
Paradigma Ilmu Komunikasi berdasarkan metodologi penelitiannya, menurut Dedy N. Hidayat (1999) dalam Buku Sosiologi Komunikasi karya Burhan Bungin (2009), yang mengacu pada pemikiran Guba (1990 : 1994) ada (3) paradigma :
(1) paradigma klasik (classical paradigm) ;
(2) paradigma kritis (critical paradigm) ; dan
(3) paradigma konstruktivisme (contructivism paradigm).
Menurut Sendjaja (2005) dalam Burhan Bungin, paradigm klasik (gabungan dari paradigm ‘positivism’ dan post-positivism menurut Guba), menurut Dedy N Hidayat (1999), bersifat ‘interventionist’ yakni melakukan pengujian hipotesis dalam struktur hypotthecito-deductive method, melalui laboratorium, eksperimen, atau survey ekplanatif dengan analisis kuantitatif. Dengan demikian objektivitas, validitas, dan realibilitas diutamakan dalam paradigma ini.
Paradigma kritis lebih berorientasi ‘particivative’ dalam arti menggunakan analisis konverhensif, konstekstual, dan multilevel analisis, sedangkan paradigm konsruktivisme, bersifat reflektif da dialektikal. Menurut paradigma ini, antara peneliti dan subjek yang diteliti, perlu tercipta empati dan interaksi dialektis agar mampu merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode kualitatif seperti observasi partisivasi (participant observation).
Menurut Prof Engkus Koeswarno, Perbedaan Ontologis ;
Paradigma Klasik, Critical Realism: Realitas “nyata” diatur oleh kaidah yang berlaku universal, walaupun kebenaran diperoleh secara probalistik.
Paradigma Konstruktivis, Relativism : Reaalitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran realitas bersifat relative, berlaku konteks sfesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.
Paradigma Kritis, Historical realism : Realitas “semu” (virtual reality) yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan sosial, budaya, politik, ekonomi, dsb.
Menurut Prof. Dr. Engkus Koeswarno dalam bukunya Fenomenologi (36 : 2009) Menetapkan metodologi sama artinya dengan mendeskripsikan paradigma atau cara pandang terhadap realitas. Berkaitan dengan hal ini, bagaimana sebenarnya posisi metodologi fenomenologi ? pada dasarnya fenomenologi cenderung untuk menggunakan paradigma penelitian kualitatif sebagai landasan metodologisnya.
Berikut ini perlu diuraikan sifat-sifat dasar penelitian kualitatif yang relevan menggambarkan posisi metodologis fenomenologi dan membedakannya dari penelitian kuantitatif :
(1) Menggali nilai-nilai dalam pengalaman dan kehidupan manusia.
(2) Fokus penelitian adalah pada keseluruhannya, bukan pada perbagian yang membentuk keseluruhan itu.
(3) Tujuan penelitian adalah menemukan makna dan hakikat dari pengalaman, bukan sekedar mencari penjelasan atau mencari ukuran-ukuran dari realitas.
(4) Memperoleh gambaran kehidupan dari sudut pandang orang pertama, melalui wawancara formal dan informal.
(5) Data yang diperoleh adalah dasar bagi pengetahuan ilmiah untuk memehami perlikau manusia.
(6) Pertanyaan yang dibuat merefleksikan kepentingan, keterlibatan dan komitmen pribadi dari peneliti.
Sifat-sifat penelitian kualitatif tersebut, akan sejalan dengan ciri-ciri penelitian fenomenologi berikut ini :
(1) Fokus pada sesuatu yang Nampak, kembali kepada yang sebenarnya (esensi), keluar dari rutinitas, dan keluar dari apa yang diyakini sebagai kebenaran dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
(2) Fenomenologi tertarik dengan keseluruhan, dengan mengamati entitas dari berbagai sudut pandang dan persfektif, sampai didapat pendangan esensi dari pengalaman atau fenomena yang diamati.
(3) Fenomenologi mencari makna dan hakikat dari penampakan, dengan intuisi dan refleksi dalam tindakan sadar melalui pengalaman. Makna ini yang pada akhirnya membawa kepada ide, konsep, penilaian dan pemahaman yang hakiki.
(4) Fenomenologi mendeskripsikan pengalaman, bukan menjelaskan atau menganalisisnya. Sebuah deskripsi fenomenologi akan sangat dekat dengan kelamiahan (tekstur, kualitas, dan sifat-sifat penunjang) dari sesuatu. Sehingga deskripsi akan mempertahankan fenomena itu seperti apa adanya, dan menonjolkan sifat alamiah dan makna dibaliknya. Selain itu, deskripsi juga akan membuat fenomena “hidup” dalam term yang akurat dan lengkap. Dengan kata lain sama “hidup” –nya antara yang tampak dalam kesadaran dengan yang terlihat oleh panca indera.
(5) Fenomenologi berakar pada pertanyaan-pertanyaan yang langsung berhubungan dengan makna dari fenomena yang diamati. Dengan demikian peneliti fenomenologi akan sangat dekat dengan fenomena yang diamati. Analoginya peneliti itu menjadi salah satu bagian puzzle dari sebuah kisah biografi.
(6) Integritas dari subjek dan objek. Persepsi peneliti akan sebanding/sama dengan apa yang dilihatnya/didengarnya. Pengalaman akan suatu tindakan akan membuat objek menjadi subjek, dan subjek menjadi objek.
(7) Investigasi yang dilakukan dalam kerangka intersubjektif, realitas adalah salah satu bagian dari proses secara keseluruhan.
(8) Data yang diperoleh (melalui berpikir, intuisi, refleksi, dan penilaian) menjadi bukti-bukti utama dalam pengetahuan ilmiah.
(9) Pertanyaan-pertanyaan penelitian harus dirumuskan dengan sangat hati-hati. Setiap kata harus dipilih, di mana kata yang terpilih adalah kata yang aling utama, sehingga dapat menunjukan makana yang utama pula. Dengan demikian, jelaslah bahwa bahwa fenomenologi sangat relevan menggunakan peneliti kualitatif ketimbang penelitian kuantitatif, dalam mengungkapkan realitas.
Catatan
Bungin, Burhan, Sosiologi Komunikasi, Kencana, Jakarta, 2009
Koeswarno, Engkus, Fenomenologi, Widya Padjajaran, Bandung, 2009
FILSAFAT DUA
Saya berpendapat, bahwa Filsafat harus di fahami juga oleh mahasiswa program magister dan doktor. Kenapa, kita sebagai manusia menuntut ilmu bukan untuk gaya-gayaan atau gengsi, mengejar prestise namun untuk lebih mengembangkan diri dan bermanfat untuk diri sendiri kemudian untuk orang lain. Dengan mempelajari Filsafat kita berharap lebih bijaksana dalam bertindak. Berpikir lebih jernih untuk melangkah maju menapak hari demi hari. Apalagi sebagai umat manusia dalam perkembangan jaman saat ini, harus dibarengi dengan pijakan filsafat yang mumpuni. Mengetahui landasan munculnya ilmu pengetahuan.
Karena dalam Filsafat seperti ditulis oleh Prof. Dr. Engkus Kuswarno, M.S. dalam bukunya yang berjudul Fenomenologi (29 : 2009), bahwa pada umumnya pembahasan Filosofis selalu melibatkan empat bidang inti, yakni ontology, epsitomologi, etika, dan logika. Keempat bidang inilah yang menjadi dasar bagi semua ilmu pengetahuan.
Menurut Socrates dan Plato, filsafat dimulai dari etika, sedangkan menurut Aristoteles filsafat dimualai dari metafisika atau ontologi. Descrates menempatkan epistomologi sebagai bidang filsafat yang utama, seperti halnya Russel yang menempatkan logika sebagai bidang filsafat yang utama. Pada sisi lain, Husseri beranggapan bahwa fenomenologi-lah yang menjadi inti dari filsafat, Husseri beranggapan bahwa fenomenologi-lah yang menjadi inti dari filsafat. Husseri adalah filsuf pertama yang memasukan fenomenologi sebagai bidang inti filsafat selain yang empat tadi.
Sedangkan Filsapat seperti di tulis oleh Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya yang berjudul Filsapat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer (19 : 2007), Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri : Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu ? Apakah cirri-cirinya yang hakiki ang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu ? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar ? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah ? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu ? Apakah kegunaan yang sebenarnya ?
Demikian juga berfilsafat berarti terendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui : Apakah ilmu mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya saya ketahui dalam kehidupan ini ? Di batas manakah ilmu mulai dan di batas manakah dia berhenti ? Kemanakah saya harus berpaling di batas ketidaktahuan ini ? Apakah kelebihan dan kekurangan ilmu ? (Mengetahui kekurangan bukan berarti merendahkanmu, namun secara sadar memanfaatkan, untuk terlebih jujur dalam mencintaimu).
Sumber Bacaan
Koeswarno, Engkus, Fenomenologi, Widya Padjajaran, Bandung, 2009
Suriasumantri, Jujun S, Filsapat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2009
Rabu, 07 April 2010
FILSAFAT TIGA
Knowing, Salah satu keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya di muka bumi adalah dimilikinya kemampuan untuk berfikir atau dalam bahasa psikologi dikenal dengan istilah kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif. Kemampuan kognitif inilah yang memungkinkan manusia untuk dapat memiliki sejumlah pengetahuan (knowledge) guna kepentingan kelangsungan hidupnya.
Dengan pengetahuan yang dimilikinya, seorang manusia dapat mengingat, memahami, merencanakan, atau memecahkan berbagai masalah kehidupan yang yang sangat kompleks sekalipun.
Berbicara tentang pengetahuan manusia, Wayne K. Hoyt dan Cecil G. Miskel (2001) mengemukakan tentang dua jenis pengetahuan, yaitu :
1. general knowledge; pengetahuan yang diterapkan dalam berbagai situasi.
2. specific knowledge; yaitu pengetahuan yang berkenaan dengan tugas atau persoalan tertentu.
Sementara itu, Paris dan Cuningham (1996) mengkategorikan pengetahuan ke dalam tiga bagian yaitu:
1. declarative knowledge; pengetahuan untuk menerangkan sesuatu (knowing what).
2. procedural knowledge; pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu (knowing how).
3. conditional knowledge; pengetahuan tentang kapan dan mengapa (knowing when dan why), yang merupakan penerapan dari declarative knowledge dan conditional knowledge
Bagaimana seseorang dapat memperoleh pengetahuan ? Untuk jawabannya bisa dijelaskan dari berbagai teori belajar. Kalangan behaviorist beranggapan bahwa pengetahuan seseorang diperoleh melalui upaya-upaya pengkondisian (conditioning) dengan menciptakan stimulus-stimulus tertentu yang bersumber dari lingkungan sehingga pada gilirannya dapat diperoleh respon-respon tertentu.
Kekuatan utamanya terletak pada pemberian reinforcement atas respon-respon yang dihasilkan. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan dengan cara trial and error, latihan secara berulang-ulang, atau meniru dari orang lain.
Sementara kalangan Cognitivist beranggapan bahwa pengetahuan manusia diperoleh melalui persepsinya terhadap stimulus dengan menggunakan alat dria, hasil persepsi berupa informasi akan disimpan dalam sistem memori untuk diolah dan diberikan makna, selanjutnya.informasi tersebut digunakan (retrieval) pada saat diperlukan. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan dengan mengoptimalkan kemampuan perseptual dan perhatiannya serta mengatur penyimpanan informasi secara tertib.
Kalangan konstruktivist ala Piaget berpandangan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan dengan cara mengasosiasikan dan mengakomodasikan pengetahuan yang telah ada dalam dirinya dengan pengetahuan yang diterimanya sehingga membentuk pengetahuan baru, melalui usaha aktif inidividu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tentunya, masih banyak pandangan-pandangan lainnya tentang bagaimana seseorang dapat memperoleh pengetahuan.
Terlepas dari berbagai pandangan yang ada, bahwa sumber pengetahuan di dunia ini betapa kaya dan luasnya, sehingga manusia tidak mungkin dapat menjangkau seluruhnya dan pengetahuan yang kita miliki hanya baru sebagian kecil saja dari sumber pengetahuan yang tersedia. Kewajiban kita adalah berusaha mendapatkan pengetahuan itu sesuai dengan kapasitas yang dimiliki masing-masing, melalui usaha yang tiada henti sepanjang hayat. Semakin banyak dan mendalam pengetahuannya, seseorang akan semakin tersadarkan pula bahwa sesungguhnya betapa kecilnya pengetahuan yang telah didapatkanya.
Menurut Prof. Dr. Engkus Koeswarno, M.S. dalam materi perkuliahan Filsafat Ilmu menjelaskan,
DalamEncyclopedia of Philosophy: pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).
Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui. Mengetahui itu hasil kenal, sadar, insaf, mengerti, benar dan pandai.
Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi.
Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar.
Pengetahuan (knowledge) merupakan terminologi generik yang mencakup seluruh hal yang diketahui manusia. Pengetahuan adalah kemampuan manusia seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pengamatan, dan intuisi yang mampu menangkap alam dan kehidupannya serta mengabstraksikannya untuk mencapai suatu tujuan.
Tujuan manusia mempunyai pengetahuan adalah:
1. Memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan hidup
2. Mengembangkan arti kehidupan
3. Mempertahankan kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri.
4. Mencapai tujuan hidup.
Binatangpun mempunyai pengetahuan, tetapi hanya sekedar atau terbatas untuk melangsungkan hidup (survival).
Herman Soewardi Guru Besar Sosiologi dan Filsafat Ilmu pada Universitas Padjajaran Bandung, Dalam buku yang ditulisnya berjudul Roda Berputar Dunai Bergulir, Kognisi baru tentang Timbul tenggelamnya Sivilisasi, menuliskan :
1. The Knower
Secara analitik, kemampuan untuk mengetahui itu dapat diuraikan sebagai berikut :
(1) Kemampuan kognitif, ialah kemampuan untuk mengetahui (dalam arti kata yang lebih dalam berupa mengerti, memahami, menghayati) dan mengingat apa yang diketahui itu. Landasan kognitif adalah rasio atau akal, yang sifat atau kemampuannya telah kita kupas di muka, Kognisi an sich bersifat netral.
(2) Kamampuan afektif, ialah kemampuan untuk merasakan tentang yang diketahuinya itu, ialah rasa cinta (love) dan rasa indah (beauty). Afeksi sudah tidak netral lagi. Baik rasa cinta maupun rasa indah kedua-duanya merupakan kontinum dengan ujung-ujungnya yang bersifat poler (cinta-benci, indah-buruk). Seperti telah disebut di muka, rasa inilah yang menghubungkan manusia dengan kagaiban, dan rasa inilah yang merupakan sumber kreativitas manusia. Dengan rasa inilah manusia menjadi manusiawi, atau dengan perkataan lai, bermoral.tak berlebihan bila kita katakan bahwa rasalah yang menjadi tiangnya kemanusiaan. Namun rasa tidak mempunyai patokan seperti halnya rasio. Rasa adalah sekaligus keagungan dan kelemahan manusia (poler!), dan disinilah pula letaknya sasaran godaan syeitan. Disinilah letaknya bahaya utama manusia, sehingga Tuhan menurunkan petunjuk-petunjuk-Nya kepada manusia, dengan penegasan daripadaNya bahwa celakalah mereka yang tidak mendengar. Rasa yang terkena godaan syeitan menimbulkan bermacam-macam kecelakaan, termasuk tidak berfungsinya rasio : menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah. Rasio menjadi tumpul.
(3) Kemampuan konatif, ialah kemampuan untuk mencapai apa yang dirasakan itu. Konasi adalah will atau karsa (=kemauan, keinginan, hasrat), ialah daya dorong untuk mencapaiu (atau menjauhi) segala apa yang didiktekan oleh rasa. Rasalah yang memutuskan apakah sesuatu itu dicintai atau dibenci, dinyatakan indah atau buruk dan menjadi sifat manusia untuk mengingin-kan/mendekati yang dicintainya dan yang dinyatakan indah, dan sebalik-nya untuk membuang/menjauhi yang dibencinya dan dinyatakan buruk. Adapun kekuatan manusia untuk bergerak mendekati/menjauhi disebut kemampuan konatif.
Satu lagi sifat manusia sebagai The Knower ialah kesadaran manusia, yang merupakan dasar yang lebih dalam bagi dapat berfungsinya ketiga kemampuan di atas. Kesadaran atau consciousness merupakan bukti dari keperiadaan. Seperti diucapkan oleh Descrates, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada), kita dapat menambahkan bahwa berpikir itu hanya dapat dilakukan dalam keadaan sadar, maka kesadaranlah yang merupakan dasar yang lebih dalam. Berbagai pakar mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang kesadaran manusia ini. Akan dikupas pandangan-pandangan dari Freud, Marx, James, Al Ghazali dan Fazlur Rahman.
Freud : oleh Martindale (1960) digolongkan sebagai irrational idealism mengikuti Schpenhauer dan Nietzsche, yang berpandangan bahwa lebih dasar dari pada rasionalitas manusia adalah emosinya dan naluri kehidupannya (atau will nya). Psikologi dari individu di dalam pandangannya itu terbagi menjadi dua bagian, ialah kesadaran dan ketidaksadaran, dimana yang disebut terakhir berisi factor-faktor emosional yang lebih dalam, yang bersifat sangat seksual (libidinous), dengan suatu mekanisme sensor tersebut. Maka pada dasarnya Freud beranggapan bahwa dorongan seksual itulah yang merupakan nature dari manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa kesadaran Freud adalah kesadaran seksual yang telah disensor.
Marx: Menyatakan bahwa kelaslah yang member bentuk kesadaran manusia. Individu akan menampakan keperilakuan sebagaimana didktekan oleh kelasnya, dan dalam pandangan Marx hanya ada dua kelas, yang satu memeras dan yang satu lagi diperas (sebgai tesa dan antitesa), maka demikian pulalah kesadaran individu-individu di dalam masing-masing kelasnya. Jelas bahwa pandangan Marx ini adalah pandangan materialistic, dimana materi menguasai spiritual.
James, Menentang pandangan bahwa kesadaran merupakan suatu kesatuan (entity). Pikiran (thoughts) timbul atau dibuat dari objek-objek material (berupa material, esensi atau suatu minda lain) yang benar-benar ada, tapi tidak ada satu original being yang sama seperti objek-objek itu yang menimbulkan pikiran tersebut. Bagi James yang ada hanya pengalaman (experience), dimana bagian dari pengalaman itu suatu konteks tertentu bersifat the knower (subjek), dan dalam konteks lain the known (objek). Dikatakannya bahwa pengalaman murni adalah aliran (flux) dari kehidupan yang memberikan bahan bagi refleksi-refleksi kita di kemudian. James mencampurbaurkan kesadaran dan pengalaman, the knower dan the known.
Al Ghazali : menginterpretasikan Al Qur’an dan melihatnya bahwa kesadaran itu bertingkat-tingkat, dari tingkatan terendah sampai ke tingkatan tertinggi. Yang terendah adalah kesadaran indrawi, yang sering menipu dan bertalian dengan nafsu amarah ; tingkat kedua berupa kesadaran akali yang mengoreksi kesadaran indrawi (misalnya tongkat menjadi bengkok bila dicelupkan kedalam air), dan bertalian dengan nafsu lawwamah ; kesadaran akali masih bisa menipu, misalnya bila kita dihadapkan pada masalah moral. Kesadaran tertinggi adalah kesadaran rohani, yang tidak bisa berbohong, dan bertalian dengan nafsu mutmainah.
Fazlur Rahman : juga menginterpretasikan Al Qur’an dan berbeda dengan Al Ghazali, ia sampai pada kesimpulan yang lain. Bagi Fazlur Rahman, ucapan-ucapan seperti al-nafs al-mutmainah dan al-nafs al-lawwamah (yang biasanya diterjemahkan menjadi jiwa yang merasa puas dan jiwa yang mengutuk) sebaiknya kita pahami sebagai keadaan-keadaan, aspek-aspek, watak-watak, atau kecenderungan-kecenderunagn dari pribadi manusia (Fazlur Rahman, 1980 : 26). Karena itu menurut hemat saya yang disebut ammarah, lawwamah dan mutmainah oleh Al Ghazali itu bukan tingkatan-tingkatan yang baku, akan tetapi kecenderungan-kecenderungan yang bisa terjadi pada setiap manusia, pada setiap saat. Maka pandangan Fazlur Rahman sangat sesuai dengan konsepsi tentang fitrah manusia (atau the human nature) yang tak lain adalah rasa atau kemauan afektif yang bersifat bersih dari segala kotoran, gangguan dan godaan, yang merupakan media hubungan yang dicipta dengan sang pencipta, yang merupakan dasar bagi yang dicipta untuk mendegar petunjuk yang Mencipta ; maka dari itu kesadaranpun bersifat terbuka (bisa ammarah, lawwamah, dan mutaminah) dimana ketiga bentuk nafsu itu selalu bisa berganti-ganti dari saat ke saat. Kepada ketiga bentuk itu sulit kita berikan ranking berdasarkan tinggi-rendahnya, yang merupakan makhluk material dan makhluk spiritual sekaligus. Sedangkan yang penting bagi manusia adalah pilihan dengan kesadaran apa manusia harus bersandar pada kehidupannya, berdasarkan pada petunjuk-petunjuk yang Mencipta. Berpaling dari Petunjuk-petunjuk itulah yang menjadikan manusia sesat dan jatuh ke dalam lembah kenistaan.
2. Knowing Atau Nalar/Berfikir
Kesadaran adalah landasan untuk nalar atau berfikir. APa yang dipikirkan oleh manusia ? Ialah tentang segala sesuatu, baik yang dapat diindera maupun yang tidak dapat diindera. Segala sesuatu yang dapat diindera oleh manusia disebut pengalaman atau experience. Sedangkan segala sesuatu yang tak dapat diindera oleh manusia disebut dunia metafisika (meta = beyond). Metafisika = beyond experience). Berpikir tentang experience disebut berpikir empirikan, dan berpikir tentang dunia gaib disebut berpikir transcendental. Hal-hal yang manusia peroleh melalui pemberitaan (wahyu) disebut divine revelation, yang menyangkut dua-duanya, ialah empirical dan transendental. Sejak jaman Yunai kuno manusia telah melakukan pemikiran. Terkenal sampai sekarang antara lain adalah apa yang disebut Silogisme dan Geometrika Euclid.
Logika, matematika dan statistika
Ketiga-tinganya merupakan media untuk nalar dan sekaligus untuk mengkomunikasikannya. Ketiga-tiganya mempunyai patokan atau rules, menggunakan tanda-tanda atau sinyal yang diberi definisi yang ketat. Deduksi adalah rules bagi logika dan matematika, dan induksi adalah rules bagi statistika. Deduksi disebut pula inference.
Baik logika maupun matematika berbentuk form, sebagai wadah bagi berbagai content atau isi. Patokan atau rules berlaku untuk form dan kebenarannya (dari inferences) adalah kebenaran form. Adapun kebenaran ini atau content tidak menjadi jaminan. Kebenaran atau keberadaan content tergantung dari premis-premis, Karena itu adalah kosong (form without content is empty).
Berbagai peristilahan dalm logika
1. Proporsional Calculus : suatu cabang logika yang paling dasar (elementer), dan dasar bagi yang lain. Dimaksudkan untuk memberikan presisi pada kalimat-kalimat, ialah kata penghubung (connective) : dan, atau, bila, maka, dan sebagainya.
2. Sistem logistic atau kalkulus, ialah bagian yang murni dari bahasa yang diformalkan, merupakan abstraksi dari setiap pengertian atau interpretasi. Jumlah rumus yang diformalkan dengan ketat. Patokan inference yang diinfer atau kongklusi (dari suatu premis). Menjadi teorema bila da bukti (prof).
3. Categorical proposition :
a. Affirmative : all S is P
b. Negative : No S is not P
c. Universal : Some S is P
d. Particular : Some S is not P
4. Appositions, immediate inference : contradictory, Contrary, Sub-contrary, Subalterm.
5. Categorical syllogism (first order functional calculus)
Beberapa hal tentang matematika
1. Geometrika Euclidian : axiomatika
2. Geometrika non-euclidian : postulat yang diubah memberikan teorema yang lain.
3. Teorema Goedel : bila patokan (game/matematika) itu benar-benar konsisten, kenyataan konsistensi itu tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan permainan (game) itu sendiri.
Beberapa tentang induksi (Statistika)
1. Pengertian : a passage from individuals to universals
Summative : complete, conclusive argument
Ampliatise : incomplete, from the know to the unknown
2. Tempatnya dalam sains : testing hypothesis adalah dengan induksi.
Catatan dari kuliah perdana Prof. Husen Djajasukanta :
1. Benar-tidaknya suatu hipotesis tergantung dari peluang. Maka kebenaran itu kebetulan saja benar (Type I error dan Type II error).
2. Kebenaran empiric dijadikan premis : premis itu tidak selalau benar.
3. Knowledge
Berhubungan dengan kepercayaan reliabilitas dan soliditas dari dunia external yang kita kmelalui sense perception, pertalaiannya dengan ingatan (memeory) dan pengenalan objek-objek yang sama seperti telah kita pernah lihat sebelumnya.
Pencarian/penemuan knowledge adalah fungsi dari sains, sedanglkan fungsi filsafat adalah clarification dari penemuan-penemuan itu (asfek etimologinya).
Masalah-masalah
1. Tentang eksternal world : sejauh in, atas pengaruh dari sains alamiah, masalah eksternal world hanya berkisar pada apa yang dapat diketahui (knowability) dari pada eksternal world itu dalam rangka pengujian hipotesis-hipotesis.
2. Persepsi dan memory : merupakan warisan dari empiris.
Persepsi, diyakini nahwa ada eksternal world yang dihuni oleh obyek-obyek yang nyata baik alamiah maupun buatan, sehingga yang menjadi masalah adalah bagaimana objek-objek itu dapat dipersepsi. Dalam hal ini bisa terjadi ilusi dan halusinasi. Sebuah tongkat yang menjadi bengkok ketika dicelupkan ke air tetap bengkok. Bagaiamanakah hubungan antara tampak bengkok dan tidak bengkok dari tongkat itu ?
Memori (ingatan) : juga memecahkan masalah terjadinya ingatan telah menjurus ke jalan buntu. Bagaimana kita percaya bahwa benar-benar itulah yang terjadi di masa lalu ? dan apa yang terjadi bila kita tidak bisa mengingatnya.
3. Analisis bahasa
Suatu masalah anatar objek material dengan kata yang bertalian dengan objek material itu. Benarkah kita tahu tentang material obyek itu setelah kita mengetahui kita yang bertalian dengannya ?
4. Masalah komunikasi
Mana yang sebenarnya terjadi : berkomunikasi atau bermis-komunikasi ? Sulit untuk kita terima dengan tandas bahwa seorang itu mengerti tentang sesuatu yang dikomunikasikan atau ia itu sebenarnya salah mengerti ? Dan, apakah yang sebenarnya dikomunikasikan itu, pengetahuan atau pengalaman?
Sumber Bacaan
Soewardi, Herman, 2009, “Roda Berputar Dunia Bergulir”, Bakti Mandiri, Bandung.
Power Point Materi Perkuliahan Filsafat Ilmu, oleh Prof. Dr. Engkus Koeswarno, M.S.
Tulisan Berjudul Pengetahuan Manusia oleh Akhmad Sudrajat, M.Pd, http://boedyanturan-ikomangbudiasa.blogspot.com
Minggu, 22 Februari 2009
Dari Radar Banten
By redaksi
Minggu, 22-Februari-2009, 07:14:35
Meningkatkan kreativitas mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Untirta,
kampus yang berada di Jalan Raya Jakarta, Pakupatan, Serang ini menyediakan dua media sebagai media komunikasi di kampus berupa TV komunitas dan media penyiaran radio. Kedua media ini diresmikan pada Kamis, (19/2) di auditorim Untirta dengan tema “Membangun Citra Untirta Melalui TV Komunitas dan Tirta FM”.
Saat peresmian, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip Untirta) Sihabudin, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untirta merasa bangga karena telah hadir dua media pembelajaran aplikatif mahasiswa. “Saya gembira Untirta memiliki media penyiaran, walaupun saya sempat kecewa karena acara persemian ini diundur. Tapi semoga UTV dan Tirta FM berjalan baik dan lancar,” ungkapnya.
Hal yang sama diungkapkan Yoki Yusanto. “Saya senang adanya dua media ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, mereka juga langsung mempraktekannya,”tandasnya.
Terkait acara persemian Untirta TV dan Tirta FM, Yoki menilai acara itu punya nilai kreativitas. “Acara peresmian tadi sangat kreatif. Karena ada dialog siaran langsung,” lanjut Yoki. (zahara/pers kampus)
Jumat, 20 Februari 2009
LAUNCHING TV KOMUNITAS UNTIRTA 14 UHF
PELUNCURAN TV KOMUNITAS UNTIRTA TV 14 UHF & RADIO TIRTA FM 107,9 MERIAH NAMUN MENDEBARKAN
Untirta telah resmi mempunyai media komunitas yang dapat menyampaikan informasi kepada seluruh civitas akademika untirta dan masyarakat lokal wilayah Serang Banten yaitu dengan melalui media televisi dan radio. Pada Kamis, 19 Februari 2009 di adakan peresmian media komunikasi untirta yaitu Untirta Tv dan Tirta FM di Auditorium Untirta Serang.
Acara dimulai pada pukul 3 sore. Peresmian tersebut di hadiri oleh Pembantu Rektor II untirta H. Sudendi, Perwakilan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Dede Wahdiati, jajaran dekanat untirta, pengurus ormawa untirta, media massa lokal Banten serta mahasiswa untirta. Acara tersebut berlangsung meriah yang di awali dengan teaterikal yang di bawakan oleh kru Untirta Tv dan Radio.
Pembantu Rektor II Untirta H. Sudendi memberikan sambutan sekaligus meresmikan Untirta tv dan Tirta FM. Dalam sambutannya ia berharap untirta tv dan tirta fm bisa terus berkembang dan menjadi media pencitraan untirta. “Dengan adanya 2 media ini diharapkan mampu membuat citra untirta lebih baik,”.
Setelah itu, acara di lanjutkan dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Pembantu rektor II Untirta H.Sudendi, perwakilan KPID Banten Dede Wahdiati, Dekan Fisip Untirta Ahmad Shihabuddin, dan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Untirta Rahmi Winangsih. Dengan pemotongan tumpeng tersebut secara simbolis telah meresmikan untirta tv dan tirta fm.
Situasi semakin tegang ketika memasuki acara selanjutnya, yaitu telewicara langsung dari studio untirta tv ke tempat peresmian di auditorium untirta. Dalam telewicara langsung tersebut dituntut persiapan yang matang. Dengan peralatan yang sederhana di harapkan mampu mengatasi permasalahan tekhnis yang sangat riskan terjadi. Menurut Pengarah acara Azwar Yusuf, “Walaupun dengan peralatan yang sederhana, ternyata dapat menampilkan telewicara dengan baik dan lancar”
Dalam telewicara tersebut Pembantu Rektor II Untirta berkomunikasi langsung kepada Direktur Utama Untirta Tv, Yoki yusanto dan Kepala Badan Pelaksana Penyiaran Radio Komunitas Tirta Fm, Neka Fitriyah. Dalam rangkaian telewicara tersebut, Untirta tv juga memperkenalkan program – program unggulan, yaitu Liputan Kampus Terkini (L’KAT), Lensa Dialog Kampus (LDK), Bincang - Bincang Mahasiswa (BBM), Untirta Music Corner (UMC), Kuliner Kantong Mahasiswa (KKM), serta iklan layanan masyarakat yang di produksi oleh Untirta TV.
Sama halnya degan Untirta Tv, Tirta Fm juga melakukan siaran langsung dari studio radio tirta fm dan Pembantu Rektor II untirta juga melakukan komunikasi langsung dengan penyiar di studio Tirta FM. Melalui siaran langsung tersebut tirta fm juga memperkenalkan program – program unggulan, yaitu Khasanah kita, happy hour, Untirta Today, our morning, our afternoon dan night life.
Acara peresmian tersebut ditutup oleh penampilan dari kru untirta tv dan tirta fm yang menyanyikan lagu dari Coldplay dengan judul Fix you. Setelah itu para kru untirta tv dan tirta fm semua berkumpul dihadapan audiens dan menyampaikan salam penghormatan.(AZWAR/Mahasiswa Jurnalistik Semester VI-UNTIRTA)
Jumat, 04 Juli 2008
Selasa, 01 Juli 2008
media adalah ;
suminta@gmail.com
bagi kepentingan tertentu, untuk itu kita perlu melakukan berbagai
upaya untuk mecegahnya. Karena distrosi dan bias informasi apalagi
yang dilakukan secara sengaja atau by design adalah sebuah kejahatan
